Stasiun Persiapan Pabrik Gula

STASIUN PERSIAPAN 

Stasiun gilingan – Pabrik gula memiliki tahapan-tahapan pengolahan yang panjang sebelum akhirnya bisa di konsumsi dan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Seperti kita ketahui bersama, sebelum tebu di olah menjadi gula, harus melewati stasiun persiapan atau preparing station sebelum di proses ke tahap penggilingan. Proses persiapan ini kontrol utamanya adalah untuk memastikan tebu memiliki rendemen tebu atau kandungan nira yang tinggi dan memastikan tidak membawa banyak kotoran pada tebu yang akan di olah.
Tujuan stasiun persiapan adalah untuk mempersiapkan tebu sebagai umpan pada stasiun gilingan. Untuk memperoleh tebu yang baik dan sesuai dengan kriteria tebu maka dibentuk beberapa Pos Pengawasan dan Pemeriksaan tebu sebelum tebu digiling, yaitu: 

stasiun persiapan pabrik gula
Sumber: pgtrangkil.com

a. Pos I (Kebun) 

Pengawasan secara langsung terhadap tebu yang baru ditebang (memenuhi kriteria BSM). Bersih, dengan kadar kotoran tidak lebih dari 5%; Segar, waktu antara tebu tebang dan giling tidak lebih dari 24 jam; Manis, memiliki potensi rendemen tebu tinggi dimana kadar nira tinggi (>85%) dan nilai nira NPP tinggi (>12%). 

b. Pos II (Timbangan) 

Pemeriksaan terhadap tebu yang masuk timbangan. Tebu yang kotor harus diberi peringatan atau diberi pengurangan premi kebersihan. Tebu bakaran harus ditolak karena sukrosanya telah mengalami inversi menjadi glukosa dan fruktosa sehingga gula yang dihasilkan dari tebu bakaran memiliki kualitas yang buruk dan berwarna coklat.

c. Pos III (Cane Yard) 

Pemeriksaan ulang terhadap tebu yang masuk sebelum digiling. Penyimpanan tebu di Cane Yard dilakukan dengan menggunakan sistem FIFO, singkatan dari First In First Out.

1. Penimbangan Tebu 

Sebelum masuk ke dalam pabrik, tebu harus ditimbang terlebih dahulu. Tujuan penimbangan tebu ini adalah untuk: 
a. Mengetahui bobot tebu yang masuk ke dalam proses sehingga dapat diketahui nilai rendemen tebu yaitu perbandingan antara gula yang dihasilkan dari proses dengan tebu yang digiling. 
b. Mengetahui biaya upah tebang yang harus dibayarkan. 
c. Mangetahui kapasitas giling pabrik. d. Perhitungan pengawasan proses lainnya. 
Tebu yang baru ditebang secepat mungkin diangkut ke cane yard (lapangan tempat penyimpanan tebu). Sebelum masuk cane yard, truk tebu/trailer beserta tebunya akan melewati timbangan sehingga diperoleh berat truk beserta tebunya (berat bruto). Tebu dari truk tersebut kemudian diatur dengan derek yang disebut dengan cane stacker. Pengaturan ini ditujukan untuk mencegah kerusakan tebu akibat inversi sukrosa yang disebabkan oleh tebu yang terlalu lama disimpan. Cara yang digunakan adalah sistem FIFO (First In First Out), yaitu mendahulukan tebu yang terlebih dahulu datang untuk digiling, selanjutnya diteruskan oleh tebu yang baru masuk. Tebu yang dari trailer langsung digiling (direct feeding). Trailer yang sudah kosong lalu kembali melewati timbangan untuk memperoleh berat trailer (berat tara). Untuk mengetahui berat tebu yang masuk ke dalam pabrik, digunakan perhitungan sebagai berikut:
RUMUS%2BTEBU

Berat tebu (berat netto) adalah berat tebu dengan kotoran-kotoran yang masuk dan ikut tertimbang. Kotoran-kotoran yang dimaksud adalah akar tebu, daun tebu, tanah, tebu muda (sogolan), tebu mati, dan pucuk tebu. 

2. Pembongkar Tebu 

Alat-alat pembongkar tebu terdiri dari: 

a. Cane triplex 

Fungsi alat ini adalah untuk membongkar tebu melalui truk yang selanjutnya ditumpahkan ke cane carrier. 

b. Cane unloading 

Fungsinya adalah untuk membongkar tebu dengan cara mengangkut tebu yang ada di bak truk kemudian ditarik ke cane table. 

c. Hilo 

Fungsi Hilo ini adalah untuk mengangkut tebu dari trailer dan langsung memindahkannya ke meja tebu (tanpa diletakkan dahulu di cane yard). d. Cane Stacker. Fungsi dari cane stacker adalah untuk mengangkat dan mengangkut tebu dari cane yard untuk diletakkan di meja tebu (cane table). 

3. Meja Tebu (Cane Table) 

Fungsi dari cane table adalah untuk mengatur jumlah tebu yang masuk ke krapyak tebu (cane carrier) agar peletakan tebu di cane carrier merata dan tidak menumpuk. Di PG Subang terdapat tiga unit cane table untuk memenuhi kapasitas giling setiap harinya. 

4. Krapyak Tebu (Cane Carrier) 

Cane carrier berfungsi untuk mengatur jumlah tebu yang masuk ke dalam cane cutter agar tidak terjadi overload (kelebihan muatan), yang akan menimbulkan penumpukan pada cane cutter. 

5. Pisau Tebu (Cane Cutter) 

Cane cutter merupakan pembuka sel tebu yang pertama. Fungsinya adalah untuk memotong-motong dan mencacah batang tebu. Tujuan pemotongan adalah untuk menghancurkan sel-sel yang ada pada batang tebu sehingga mempermudah pemerahan nira yang terkandung dalam tebu. 
Pisau pada cane cutter berputar dengan kecepatan 900 rpm agar nira mentah tidak keluar dari sel-sel tebu saat pencacahan, dengan arah perputaran pisau searah dengan arah aliran tebu. Jumlah mata pisau yang ada 32 buah. Agar pencacahan dilakukan sempurna maka digunakan unigrator. Antara cane cutter dengan cane carrier terdapat jarak, sehingga batang tebu yang terletak pada bagian bawah masih ada yang belum terpotong dengan sempurna. Oleh karena itu tebu harus melalui unigrator, agar pencacahan terjadi lebih sempurna. 

6. Unigrator 

Unigrator merupakan pembuka sel lenjutan. Unigrator berfungsi untuk menghaluskan serabut-serabut kasar yang keluar dari cane cutter menjadi serabut-serabut yang lebih halus. 
Unigrator terdiri dari palu (hammer) yang berputar dan landasan yang permukaannya tidak halus. Unigrator memiliki kecepatan putar palu (hammer) 760 rpm dengan arah yang berlawanan dengan arah putaran tebu. Tenaga penggerak cane cutter dan unigrator berasal dari turbin yang digerakkan oleh uap (steam). 

7. Cane Elevator 

Cane elevator berfungsi untuk mengangkut tebu yang sudah terpotong-potong dari Cane Cutter dan Unigrator menuju ke Stasiun Gilingan. 
Reff: Berbagai sumber literasi tentang pabrik gula
Read also  Gambar dan Bagian-bagian Boiler Bahan Bakar Batu Bara