Fenomena Alam atau Pencemaran Teluk Bima?

alwepo.com, Bima – Apakah ini Fenomena yang lagi ramai di bicarakan oleh masyarkat Bima, NTB saat ini adalah tentang teluk Bima yang tiba-tiba berubah menjadi lautan berwarna coklat. Banyak simpang siur yang terjadi di kalangan masyarakat termasuk kalangan warganet.

Menanggapi peristiwa peristiwa alam di Teluk Bima tempo hari, Patra Niaga pastikan operasional di Fuel Terminal Bima masih tetap jalan normal, tidak ada kebocoran pipa sama seperti yang dirumorkan oleh beberapa faksi. Status operasional di Fuel Terminal Bima sudah memperoleh PROPER biru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ini memiliki arti jika Pertamina telah taat pada semua peraturan untuk pengendalian lingkungan.

Pencemaran teluk bima
pikrian-rakyat

“Sampai sekarang ini, kami pastikan operasional di Fuel Terminal Bima berjalan mulus, tidak ada ketidakberhasilan operasi atau kebocoran pipa” tutur Tempat Manajer Communication dan CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Deden Mochammad Idhani.

Faksi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima telah lakukan pengujian langsung ke lapangan (27/4), dipegang oleh Kepala Dinas, Jaidun “Sangkaan sementara datang dari lumut atau ganggang laut. Untuk pastikan apa sebetulnya yang terjadi dan apa pemicu terkait dengan peristiwa itu, kami sudah ambil contoh air laut dan gumpalan itu untuk dianalisa selanjutnya di laboratorium,” dalam penjelasannya ke reporter. Berdasar hasil penilaian jika gumpalan yang terjadi di Teluk Bima bukan datang dari curahan minyak.

Sebagai tindak lanjut, hari ini (28/4) dilaksanakan rapat koordinir antara faksi yang didatangi Asdep Kemenko Marves, KLHK, DLHK Propinsi NTB, DLHK Kabupaten Bima, Pertamina dan tim kementrian berkaitan, memperjelas kembali jika hasil sangkaan sementara memperlihatkan jika peristiwa di Teluk Bima ialah peristiwa alam diperhitungkan “sea snot” (lendir laut). “Sangkaan sementara peristiwa alam yang terjadi di teluk Bima tempo hari ialah lumut atau ganggang dan tidak ada elemen pencemaran dari minyak. Tetapi kami tidak dapat mengaitkan dengan cara tepat karena masih menanti hasil laboratorium yang ini hari diharap dapat keluar hasilnya,” tutur Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi NTB, Madani Mukarom.

“Sebagai perusahaan dengan unit operasi yang ada di dekat lokasi peristiwa, Pertamina terus akan bekerja bersama dan bekerjasama dengan beberapa faksi berkaitan. Dimohon ke beberapa faksi untuk memperoleh verifikasi dari yang berkuasa dalam masalah ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima,” tandas Deden.

Berbeda pendapat dengan pertamina, Sebelumnya, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTB, Amri Nuryadi menduga penyebab berubahnya warna air laut Teluk Bima diakibatkan oleh kegiatan usaha PT. Pertamina.

“Tumpahan yang diduga  tersebut dapat diduga keras pula bersumber dari kegiatan usaha Pertamina yang berada di pantai laut di Kota Bima,” ujar Amri Nuryadi dalam keterangannya tertulisnya, Rabu, 27 April 2022.

Oleh karena itu, pihaknya mendesak agar pemerintah bergerak cepat untuk menyelidiki kasus ini.

 

Read also  Stasiun Effluent