Nikmat Melihat oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah

images

Lihatlah betapa susahnya orang yang tidak dapat melihat! Dia tidak tahu di  mana menapakkan kakinya, tidak melihat apa yang ada di hadapannya, tidak dapat membedakan warna atau pemandangan yang indah dan yang buruk, tidak dapat mengambil faedah ilmu dari kitab yang dibacanya, dan tidak dapat mengambil ibrah dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di alam semesta. Juga, dia tidak merasakan maslahat atau mudharat dirinya sendiri. Ia tidak merasa adanya lubang yang dapat mencelakakannya, hewan buas yang mengincarnya, atau musuh yang mengancam nyawanya. Dia tidak dapat melarikan diri bila keadaan memaksa. Dia pasrah saja bila ada manusia atau hewan yang bermaksud jahat. Kalau Allah SWT tidak secara khusus menjaganya seperti penjagaan terhadap bayi, tentu dia sering mengalami kecelakaan. Dia ibarat seonggok daging di atas meja penjagalan. Oleh karena itu, Allah SWT memberinya pahala surga bila ia sabar.
Dan dengan kasih sayang-Nya, Dia membiaskan cahaya penglihatan (bashar)-nya ke bashirah (mata hati) si buta ini. Karena itu, si buta ini punya mata hati paling tajam. Dia juga memberi si buta ini kemauan yang kuat. Pikirannya terkonsentrasi, tidak terpecah – pecah, sehingga hidupnya tenteram dan nikmat, maslahatnya lancar. Jangan kira dia sedih, murung, atau menyesal!. Ini keadaan orang yang terlahir dalam keadaan buta.
Adapun orang yang buta setelah sebelumnya dapat melihat, keadaannya sama dengan orang-orang lain yang tertimpa musibah. Cobaan itu berat dirasakannya, karena dia tidak lagi dapat melihat pemandangan yang biasa dilihat. Orang seperti ini tidak sama keadaannya dengan yang pertama.
Demikian juga orang yang tuli. Dia tidak dapat merasakan enaknya bercakap-
cakap, tidak mendengar suara-suara yang merdu. Dan, manusia normal sulit 
berkomunikasi dengannya. Mereka sering kesal menghadapi manusia seperti ini. Dia sendiri tidak dapat mendengar berita dan perbicaraan orang lain. Dia berada di tengah orang-orang: hadir tapi seperti gaib, hidup tapi seperti mati, dekat tapi seperti jauh.
Orang-orang berbeda pendapat tentang siapa yang lebih dekat kepada kesempurnaan dan lebih ringan kesengsaraannya, apakah orang buta atau orang tuli. Masing-masing menyebutkan alasannya. Perselisihan ini berpangkal pada persoalan lain yaitu, sifat mana yang lebih sempurna, pendengaran atau penglihatan? Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini dalam bagian terdahulu dari kitab ini. Telah kami terangkan pendapat-pendapat yang ada, argumen masing-masing, dan juga kami jelaskan mana yang lebih kuat. Intinya, sifat mana yang lebih sempurna, maka mudharat akibat kehilangan sifat itu lebih besar.
Dan, yang layak dikatakan di sini adalah, orang buta lebih besar mudharatnya, tapi lebih selamat agamanya, dan lebih baik akibatnya. Sedang orang tuli lebih sedikit kesusahannya di dunia, tapi lebih bodoh dalam masalah agama, dan lebih buruk akibatnya. Karena, jika seseorang kehilangan indera pendengaran, maka dia tidak mendapat wejangan-wejangan dan nasihat-nasihat. Pintu-pintu ilmu yang bermanfaat tertutup baginya, dan jalan-jalan syahwat melalui indera penglihatan terpampang di hadapannya, sementara ilmu yang dapat menahannya tidak cukup dimiliki. Sebab itulah, mudharatnya dari sisi agama lebih banyak. Sedang mudharat orang buta dari sisi dunianya lebih banyak. Oleh karena itu, tidak ada orang tuli di kalangan para sahabat. Yang ada hanya orang-orang buta.
Amat jarang Allah SWT menguji para wali-Nya dengan ketulian. Kebanyakan 
Dia menguji mereka dengan kebutaan. Inilah titik terang dalam masalah ini. Mudharat orang tuli adalah dalam agamanya, dan mudharat orang buta dalam dunianya. Dan, orang yang sehat adalah yang dilindungi-Nya dari kedua cacat ini, dan dikaruniai pendengaran, serta penglihatan.
Dikutip dari Buku “Kunci Kebhagiaan” Karangan Ibnul Qayyim al Jauziyah
Read also  Orang Pertama Yang Masuk Syurga